Kamis, 10 Maret 2011

Sejarah Desa Adat Legian


Tidak jelas sumber dan informasi yang menjadi dasar dari munculnya kata Karang Kemanisan yang menyatakan nama awal dari Desa Legian, namun dari penuturan-penuturan para tetua dan tokoh-tokoh masyarakat (penglingsir) di Legian, bahwasannya Karang Kemanisan memang merupakan asal muasal dari nama Legian yang sekarang dipakai menjadi nama sebuah desa yang ada di pesisir pantai sebelah selatan pulau Bali ini.
Pada awalnya Karang Kemanisan

Memang menelusuri asal-usul bukan pekerjaan gampang, memang. Begitu juga menelusuri sejarah suatu tempat atau desa seperti halnya Legian. Sangat tidak mudah. Terlebih lagi, hingga kini sulit menemukan bukti-bukti otentik yang bisa menjelaskan kelahiran Desa  Legian, baik berupa prasasti, tinggalan arkeologis, teks-teks tradisional seperti babad ataupun sumber-sumber historis lainnya.
Namun, masyarakat Legian memiliki sebuah versi yang kerap dijadikan pegangan ketika menceritakan tentang asal mula nama Desa Adat Legian. Versi ini berdasarkan pada penuturan para penglingsir (tetua desa). Semacam cerita lisan yang diwariskan secara turun-temurun.
Konon, Desa Adat Legian awalnya bernama Karang Kemanisan. Nama Karang Kemanisan ini diketahui dari ucapan-ucapan para sadeg patih yang kerauhan ketika dilaksanakan upacara tertentu di pura-pura dalam emongan Desa Legian. Dalam ucapan-ucapan para sadeg itu, hampir tidak pernah disebutkan kata “Damuh Legian”. Yang kerap terdengar justru “Damuh Karang Kemanisan”.
Para penglingsir desa mengartikan karang sebagai tempat atau desa, sedangkan kemanisan berasal dari kata dasar manis yang mendapat awalan ke dan akhiran an. Kata kemanisan, kalau di dalam rasa berarti manis, jika dalam tempat atau pemandangan berarti indah, serasi bila dalam pergaulan, serta makmur dalam kehidupan.
Dari pengertian kata manis inilah kemudian mucul dugaan kehidupan masyarakat Legian awalnya cukup tentram dan makmur selain karena tempatnya yang indah. Nama Karang Kemanisan juga mengandung filosofi agar anak cucu atau siapa pun yang menempati tempat tersebut senantiasa menjaga keserasian dalam tata pergaulan, menjaga keindahan alam beserta lingkungannya sehingga mereka bisa dilimpahi kemakmuran, baik lahir maupun batin.
Lama-kelamaan nama Karang Kemanisan itu diubah menjadi Legian. Kata legian berasal dari kata dasar legi yang juga berarti manis. Dalam bahasa Jawa Kuno, legi juga berarti manis. Karenanya, dalam wewaran Jawa ada hari yang disebut legi dan di Bali disebut dengan umanis. Boleh jadi karena maknanya yang sama, Karang Kemanisan kemudian diubah menjadi Legian. Nama Legian memang lebih singkat dan memiliki makna lebih mendalam.
Meski begitu tiada jelas pula kapan nama Karang Kemanisan kemudian  mulai berubah menjadi legian. Begitu pula halnya dengan kapan sejatinya nama Karang Kemanisan mulai digunakan. Kini nama Karang Kemanisan diabadikan sebagai nama Taman Kanak-kanak yang dikelola oleh Desa Adat Legian.
Namun, ada dugaan Desa Adat Legian merupakan salah satu desa kuno. Hal ini didasarkan pada adanya Pura Penataran. Lazimnya, Pura Penataran dimiliki oleh desa-desa kuno seperti Penglipuran, Bayung Gede. Dugaan ini diperkuat lagi dengan ditemukannya arca atau patung kuno di Pura Puseh Desa Adat Legian yang bentuknya menyerupai arca atau patung kuno di Pura Pucak Penulisan, Bangli atau pun Pura Kebo Edan dan Pura Pengukur-Ukur, Pejeng, Gianyar. Hanya saja, hingga kini belum ada penelitian yang memberikan kesimpulan pasti mengenai usai arca  atau patung-patung kuno tersebut. (sumber: 20 th LPD Legian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar